Jejak Masyarakat, Laut, Pulau Sangiang, dan Perjalanan Pemerintahan Desa
Sejarah Desa Sangiang
Desa Sangiang merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini memiliki perjalanan sejarah yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat pesisir Wera, Pulau Sangiang, laut, serta perkembangan pemerintahan masyarakat di wilayah Bima.
Sejarah Sangiang bukan hanya tentang kapan sebuah pemerintahan desa mulai berdiri. Di balik nama Sangiang terdapat perjalanan panjang sebuah masyarakat yang hidup berdampingan dengan laut dan alam, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membangun kehidupan baru, serta tetap mempertahankan hubungan dengan tanah asal dan warisan leluhurnya.
Nama Sangiang sendiri telah dikenal dalam catatan sejarah yang jauh lebih tua daripada pemerintahan desa dalam bentuk modern. Kawasan Sangiang dan Wera mempunyai hubungan dengan perjalanan sejarah masyarakat Bima dan kehidupan bahari di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Karena itu, untuk memahami sejarah Desa Sangiang, kita perlu melihat terlebih dahulu hubungan masyarakatnya dengan Pulau Sangiang.
Pulau Sangiang dan Asal-Usul Masyarakat
Menurut penuturan masyarakat yang pernah dihimpun dalam penelitian mengenai asal-usul masyarakat Desa Sangiang, pada masa lalu sebagian masyarakat yang kemudian menjadi masyarakat Sangiang hidup di Pulau Sangiang. Kehidupan mereka sangat bergantung pada alam. Pertanian, peternakan, perikanan, dan kegiatan berburu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pulau Sangiang bukan hanya tempat tinggal. Pulau tersebut merupakan ruang kehidupan tempat masyarakat membangun keluarga, mengolah tanah, memelihara ternak, mencari ikan, serta menjalankan berbagai aktivitas sosial dan budaya.
Hubungan masyarakat dengan pulau tersebut kemudian menjadi bagian penting dari identitas Sangiang. Bahkan setelah masyarakat bermukim di daratan Wera, hubungan dengan Pulau Sangiang tetap dipertahankan.
Pulau Sangiang dengan Gunung Sangiang Api yang menjulang di tengah laut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ingatan kolektif masyarakat.
Pulau tersebut adalah bagian dari sejarah, sedangkan laut menjadi penghubung antara masa lalu dan kehidupan Sangiang hingga hari ini.
Perpindahan Masyarakat dari Pulau ke Daratan Wera
Salah satu bagian penting dalam cerita sejarah masyarakat Sangiang adalah perpindahan masyarakat dari Pulau Sangiang menuju daratan Wera.
Berdasarkan penuturan masyarakat, perpindahan tersebut berkaitan dengan kondisi Gunung Sangiang Api dan aktivitas gunung api yang pernah terjadi. Dalam cerita yang diwariskan, masyarakat Pulau Sangiang pada suatu masa harus meninggalkan tempat tinggal mereka.
Masyarakat kemudian diangkut menggunakan kapal. Dalam kesaksian yang telah dihimpun, mereka sempat dibawa menuju Kota Bima. Namun karena tempat yang tersedia tidak mencukupi untuk menampung seluruh masyarakat, mereka kemudian kembali dibawa menuju wilayah Wera.
Di wilayah pesisir Wera inilah masyarakat kemudian membangun kehidupan baru.
Perpindahan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan masyarakat Sangiang. Mereka meninggalkan tempat tinggal di pulau, tetapi tidak meninggalkan seluruh kehidupan yang telah diwariskan oleh leluhur.
Pengetahuan tentang laut, pertanian, peternakan, pelayaran, hubungan kekerabatan, serta berbagai kebiasaan masyarakat terus dibawa dan diwariskan di tempat yang baru.
Catatan sejarah: gambar pada bagian ini merupakan ilustrasi historis, bukan foto dokumentasi asli proses perpindahan masyarakat Sangiang. Narasi perpindahan didasarkan pada penuturan masyarakat yang tercatat dalam sumber yang telah kita temukan.
Dari Kehidupan Masyarakat Menuju Pemerintahan Sangiang
Setelah masyarakat berkembang di daratan Wera, kehidupan sosial masyarakat juga semakin terorganisasi.
Dalam catatan sejarah yang dihimpun dari Desa Sangiang melalui penelitian akademik, pada masa pemerintahan Jeneli Mpore, pembentukan pemerintahan Sangiang melibatkan sejumlah tokoh agama dan tokoh adat.
Beberapa tokoh yang disebut dalam catatan tersebut antara lain H. Arrahman Abu Tua Hawa, Ibrahim Ompu Kaka, H. Yasin Bahasa, H. Sanusin Abu Mbolo, Kasrin Ompu Lebe, dan H. Barahima M. Saleh.
Melalui musyawarah antara Jeneli Mpore dengan para tokoh tersebut kemudian disepakati Dalu Dona sebagai Dalu.
Dalu merupakan bentuk kepemimpinan masyarakat pada masa tersebut. Dalam konteks pemerintahan desa sekarang, kedudukannya dapat dipahami sebagai bagian dari sejarah awal kepemimpinan pemerintahan masyarakat Sangiang.
Dengan demikian, Dalu Dona merupakan nama pemimpin pertama yang berhasil ditemukan dalam catatan sejarah pemerintahan Sangiang yang tersedia saat ini.
Pemerintahan Para Dalu
Setelah Dalu Dona memimpin selama kurang lebih sembilan tahun, kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Dalu Ali, yang menurut catatan yang tersedia memimpin sekitar delapan tahun.
Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh Dalu Bahasa atau Ompu Wa'u, yang disebut memimpin selama kurang lebih enam belas tahun. Kepemimpinan berikutnya diteruskan oleh Dalu H. Jamaluddin, yang dalam catatan tersebut disebut memimpin sekitar dua puluh tahun.
Pada masa itu, kepemimpinan masyarakat belum berlangsung melalui sistem pemilihan kepala desa seperti yang dikenal sekarang. Pengangkatan pemimpin lebih banyak melibatkan pertimbangan tokoh agama, tokoh adat, dan struktur pemerintahan yang berlaku pada masa tersebut.
Sistem tersebut menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Sangiang pada masa lalu sangat menjunjung tinggi musyawarah, penghormatan kepada tokoh masyarakat, agama, dan adat.
Catatan visual: gambar di atas adalah ilustrasi suasana musyawarah masyarakat pada masa lampau, bukan foto Dalu Dona atau tokoh Sangiang tertentu. Kita sengaja tidak membuat wajah seseorang seolah-olah merupakan foto asli tokoh sejarah.
Perubahan Zaman dan Sistem Pemerintahan
Seiring perubahan zaman, sistem pemerintahan di wilayah Bima juga mengalami perubahan.Catatan yang tersedia menyebutkan bahwa sekitar masa pemerintahan Dalu H. Jamaluddin terjadi perubahan tata pemerintahan yang berkaitan dengan berakhirnya pemerintahan Kesultanan Bima dan berkembangnya sistem pemerintahan Swapraja.
Perubahan tersebut turut memengaruhi sistem pemerintahan di tingkat masyarakat, termasuk Sangiang.
Kepemimpinan yang sebelumnya sangat erat dengan struktur tradisional secara bertahap berkembang menuju sistem pemerintahan desa yang lebih modern. Masyarakat kemudian memiliki peran yang semakin besar dalam menentukan pemimpin pemerintahan mereka.
Namun demikian, tahun sekitar 1950 yang disebut dalam sumber tidak kita tetapkan sebagai tahun resmi berdirinya Desa Sangiang.
Hal ini karena sampai penelitian kita saat ini belum ditemukan dokumen primer berupa keputusan atau peraturan yang secara tegas menyatakan tanggal dan tahun pembentukan resmi Desa Sangiang.
Karena itu, untuk menjaga kehati-hatian sejarah, tahun resmi berdirinya Desa Sangiang masih perlu dikonfirmasi melalui arsip Pemerintah Desa Sangiang, Kecamatan Wera, maupun Pemerintah Kabupaten Bima.
Dari Dalu Menuju Pemerintahan Desa
Perjalanan pemerintahan Sangiang kemudian berlanjut menuju sistem pemerintahan desa.
Dalam catatan yang berhasil ditemukan, setelah masa kepemimpinan para Dalu, pemerintahan desa kemudian dilanjutkan oleh beberapa kepala desa, di antaranya H. Imran, Drs. Saidin Murtada, A. Rasyid H. Imran, SE, Muhammad Saleh H. Mustaram, dan kemudian A. Rasyid H. Imran, SE.
Urutan tersebut merupakan bagian dari catatan sejarah pemerintahan yang berhasil kita temukan dan masih terbuka untuk dilengkapi dengan arsip resmi Desa Sangiang.
Dengan perjalanan tersebut, pemerintahan Sangiang mengalami perubahan dari kepemimpinan tradisional menuju sistem pemerintahan desa yang lebih sesuai dengan perkembangan tata pemerintahan Indonesia.
Laut dan Warisan Budaya Sangiang
Sejarah Sangiang tidak dapat dipisahkan dari laut.
Laut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak masa lalu. Laut menjadi jalur perjalanan, sumber penghidupan, sekaligus penghubung antara masyarakat daratan Wera dengan Pulau Sangiang.
Salah satu warisan budaya bahari yang penting adalah tradisi yang berkaitan dengan perahu tradisional, termasuk tradisi Kalondo Lopi.
Perahu bukan sekadar alat transportasi bagi masyarakat pesisir. Ia merupakan bagian dari pengetahuan, keterampilan, kerja bersama, dan kehidupan sosial masyarakat.
Proses pembuatan dan peluncuran perahu memperlihatkan adanya semangat gotong royong serta hubungan yang kuat antara manusia dan laut.
Karena itu, tradisi bahari Sangiang bukan hanya peninggalan masa lalu. Ia merupakan identitas budaya yang masih memiliki arti bagi masyarakat hingga sekarang.
Sangiang, Pulau, dan Generasi yang Terus Terhubung
Hubungan masyarakat dengan Pulau Sangiang juga tidak sepenuhnya berakhir setelah perpindahan ke daratan.
Dalam catatan mengenai kehidupan masyarakat Sangiang, hubungan dengan pulau tetap berlangsung. Masyarakat masih melakukan berbagai aktivitas di Pulau Sangiang, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan kebun dan ternak.
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa bagi masyarakat Sangiang, pulau dan daratan bukanlah dua kehidupan yang terpisah.
Keduanya merupakan bagian dari satu perjalanan sejarah.
Pulau Sangiang menjadi bagian dari masa lalu, daratan Wera menjadi tempat berkembangnya kehidupan baru, dan laut menjadi penghubung keduanya.
Sangiang Hari Ini
Hari ini Desa Sangiang terus berkembang sebagai bagian dari Kecamatan Wera, Kabupaten Bima.
Masyarakatnya hidup dalam perubahan zaman, tetapi berbagai unsur sejarah dan budaya masih menjadi bagian dari kehidupan desa.
Laut masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Pulau Sangiang masih memiliki tempat khusus dalam ingatan dan kehidupan warga. Tradisi dan budaya masyarakat terus diwariskan, sementara pemerintahan desa terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.
Perjalanan panjang tersebut menjadi modal penting bagi Desa Sangiang untuk membangun masa depan.
Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk menjadi dasar dalam memahami siapa masyarakat Sangiang dan dari mana mereka berasal.
Menjaga Sejarah, Merawat Identitas
Sejarah Desa Sangiang adalah kisah tentang masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan pulau, laut, tanah, adat, agama, dan pemerintahan.Ia adalah kisah tentang masyarakat yang pernah membangun kehidupan di Pulau Sangiang, kemudian berpindah ke daratan Wera, tetapi tetap membawa identitas dan warisan leluhurnya.
Ia adalah kisah tentang para tokoh masyarakat yang membangun pemerintahan melalui musyawarah.
Ia adalah kisah tentang Dalu Dona, yang tercatat sebagai pemimpin pertama dalam sejarah pemerintahan Sangiang yang berhasil kita temukan, serta para Dalu yang meneruskan kepemimpinan setelahnya.
Dan ia adalah kisah tentang sebuah masyarakat yang terus berubah mengikuti zaman tanpa kehilangan hubungan dengan akar sejarahnya.
Sangiang bukan sekadar sebuah nama.
Sangiang adalah perjalanan.
Perjalanan masyarakat dari pulau menuju daratan, perjalanan para leluhur membangun kehidupan, perjalanan pemerintahan dari kepemimpinan tradisional menuju pemerintahan desa, serta perjalanan budaya yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Sejarah itulah yang menjadi bagian dari jati diri Desa Sangiang.
Catatan penting untuk halaman website
Catatan Sejarah
Narasi sejarah Desa Sangiang ini disusun berdasarkan sumber tertulis, penelitian akademik, serta penuturan masyarakat yang tersedia. Beberapa bagian merupakan sejarah lisan yang masih terbuka untuk dilengkapi dan dikoreksi berdasarkan arsip Pemerintah Desa Sangiang, keterangan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan dokumen resmi Pemerintah Kabupaten Bima.