191 Desa, 18 Kecamatan, dan Cerita di Balik Angka 74,03 Persen
Angka sering kali terlihat sederhana. Namun di balik sebuah angka, terdapat cerita tentang pelayanan dasar, kondisi sosial, aktivitas ekonomi, lingkungan, aksesibilitas, hingga tata kelola pemerintahan desa.
Begitu pula dengan Indeks Desa.
Indeks Desa bukan sekadar angka yang menunjukkan posisi suatu desa. Ia dapat menjadi salah satu cara untuk membaca bagaimana desa berkembang, aspek apa yang sudah menunjukkan kemajuan, serta bagian mana yang masih membutuhkan perhatian dan penguatan.
Kabupaten Bima pada tahun 2026 memiliki 191 desa yang tersebar di 18 kecamatan. Berdasarkan dataset Indeks Desa 2026 Kabupaten Bima, capaian Indeks Desa Kabupaten Bima berada pada angka 74,03 persen dengan status MAJU.
Angka tersebut menjadi pintu masuk untuk melihat wajah pembangunan desa di Kabupaten Bima secara lebih luas.
Dari 73,25 persen menjadi 74,03 persen
Jika dibandingkan dengan tahun 2025, terdapat perubahan positif pada capaian Indeks Desa Kabupaten Bima.
Pada tahun 2025, indeks berada pada 73,25 persen, sedangkan pada tahun 2026 meningkat menjadi 74,03 persen. Dengan demikian, terdapat peningkatan sekitar 0,78 poin persentase.
Perubahan tersebut menjadi semakin menarik ketika melihat perkembangan status masing-masing desa.
Pada tahun 2026, terdapat:
- 37 desa berstatus Mandiri
- 96 desa berstatus Maju
- 58 desa berstatus Berkembang
Sementara pada tahun 2025 terdapat 31 desa Mandiri, 87 desa Maju, dan 73 desa Berkembang.
Artinya, dalam satu tahun terdapat perubahan komposisi status desa yang cukup berarti. Jumlah desa berstatus Mandiri bertambah 6 desa, desa Maju bertambah 9 desa, sementara desa Berkembang berkurang 15 desa.
Perubahan ini bukan berarti seluruh persoalan pembangunan desa telah selesai. Justru di sinilah pentingnya membaca Indeks Desa tidak hanya sebagai peringkat, tetapi sebagai peta perubahan dan bahan refleksi pembangunan desa.
178 desa mengalami peningkatan
Salah satu informasi penting dalam dataset Indeks Desa 2026 adalah perkembangan skor desa dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari 191 desa di Kabupaten Bima:
178 desa tercatat mengalami kenaikan, 13 desa tetap, dan tidak terdapat desa yang tercatat mengalami penurunan.
Data ini memberikan gambaran bahwa secara umum terjadi arah perubahan yang positif di tingkat desa.
Namun, angka agregat tetap perlu dibaca lebih dalam.
Sebab, setiap desa memiliki karakteristik, tantangan, sumber daya, dan kebutuhan pembangunan yang berbeda. Karena itu, capaian Indeks Desa sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “desa mana yang tinggi?”, tetapi juga dilanjutkan dengan pertanyaan:
“Apa yang membuat capaian tersebut terjadi, dan apa yang masih perlu diperkuat?”
Enam dimensi yang membentuk wajah desa
Indeks Desa memberikan gambaran melalui sejumlah dimensi pembangunan. Dalam dataset Kabupaten Bima tahun 2026, terdapat enam dimensi utama yang dapat digunakan untuk membaca kondisi desa.
1. Layanan Dasar
Dimensi Layanan Dasar memiliki rata-rata skor 138,08 dan menjadi dimensi dengan capaian rata-rata tertinggi dibandingkan dimensi lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa aspek layanan dasar menjadi salah satu kekuatan penting dalam profil Indeks Desa Kabupaten Bima.
Namun demikian, tingginya rata-rata kabupaten tidak berarti seluruh desa memiliki kondisi yang sama. Variasi antardesa tetap perlu diperhatikan agar intervensi pembangunan dapat diarahkan secara lebih tepat.
2. Ekonomi
Dimensi Ekonomi memiliki rata-rata skor 97,57.
Dimensi ini menjadi penting karena perkembangan desa tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan layanan, tetapi juga kemampuan desa membangun aktivitas ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.
Angka tersebut dapat menjadi bahan untuk melihat bagaimana potensi ekonomi desa perlu terus dikembangkan sesuai karakteristik masing-masing wilayah.
3. Sosial
Dimensi Sosial memiliki rata-rata 66,46.
Dimensi ini menunjukkan bahwa pembangunan desa juga memiliki dimensi sosial yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan fisik maupun ekonomi.
Desa yang berkembang membutuhkan lingkungan sosial yang mendukung, inklusif, dan mampu menjaga keberlanjutan pembangunan.
4. Tata Kelola Pemerintahan Desa
Rata-rata dimensi Tata Kelola Pemerintahan Desa berada pada angka 66,14.
Tata kelola menjadi fondasi penting karena berbagai program pembangunan pada akhirnya membutuhkan pemerintahan desa yang mampu merencanakan, melaksanakan, mengelola, dan mempertanggungjawabkan pembangunan secara baik.
5. Lingkungan
Dimensi Lingkungan memiliki rata-rata 58,30.
Bagi Kabupaten Bima dengan karakter wilayah yang beragam, dimensi lingkungan menjadi bagian penting dalam membaca keberlanjutan pembangunan desa.
Pembangunan yang baik bukan hanya meningkatkan kondisi ekonomi dan pelayanan, tetapi juga harus memperhatikan kemampuan desa menjaga lingkungan dan menghadapi berbagai tantangan ekologis.
6. Aksesibilitas
Dimensi Aksesibilitas memiliki rata-rata 43,55, sekaligus menjadi dimensi dengan rata-rata skor terendah.
Ini merupakan salah satu temuan penting dari pembacaan dataset.
Artinya, jika capaian Indeks Desa ingin terus didorong, aksesibilitas merupakan salah satu ruang yang perlu mendapat perhatian lebih besar.
Namun, temuan ini tidak serta-merta berarti persoalan aksesibilitas sama di seluruh desa. Karena itu, data tingkat kecamatan dan desa perlu dibaca lebih lanjut untuk menemukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih spesifik.
Tidak semua desa memiliki cerita yang sama
Salah satu kekuatan Indeks Desa adalah kemampuannya menunjukkan variasi kondisi antarwilayah.
Kabupaten Bima memiliki 18 kecamatan dengan karakteristik desa yang berbeda-beda. Karena itu, angka rata-rata Kabupaten Bima tidak boleh menutupi keragaman kondisi di tingkat kecamatan dan desa.
Dalam membaca data ini, penting untuk menghindari pendekatan yang hanya berorientasi pada ranking.
Ranking memang membantu memberikan gambaran posisi. Tetapi untuk pembangunan, yang lebih penting adalah memahami gap, kebutuhan, dan potensi masing-masing wilayah.
Desa dengan skor tinggi dapat menjadi sumber pembelajaran.
Desa dengan skor sedang dapat menjadi sasaran penguatan.
Sementara desa dengan capaian yang masih rendah perlu mendapatkan perhatian lebih terarah berdasarkan dimensi yang menjadi titik lemahnya.
Dengan pendekatan seperti itu, Indeks Desa dapat bergerak dari sekadar alat pengukuran menjadi alat pembelajaran pembangunan desa.
Dari angka menuju tindakan
Pada akhirnya, angka 74,03 persen bukanlah tujuan akhir.
Angka tersebut adalah gambaran mengenai posisi Kabupaten Bima pada tahun 2026.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana data tersebut digunakan untuk menjawab kebutuhan pembangunan desa.
Data Indeks Desa dapat menjadi bahan dialog bersama antara pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pendamping, masyarakat, lembaga legislatif, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Pertanyaan yang perlu dibangun bukan hanya:
“Berapa skor desa kita?”
Tetapi juga:
“Dimensi mana yang sudah kuat?”
“Dimensi mana yang masih tertinggal?”
“Mengapa terjadi perubahan?”
“Apa praktik baik yang dapat direplikasi?”
Dan yang paling penting:
“Apa yang dapat dilakukan bersama agar peningkatan tersebut berkelanjutan?”
Membaca 191 desa sebagai satu kesatuan
Indeks Desa Kabupaten Bima 2026 memperlihatkan sebuah gambaran yang menarik.
Secara agregat, Kabupaten Bima berada pada status MAJU dengan indeks 74,03 persen.
Sebanyak 178 desa mengalami peningkatan, sementara komposisi desa Mandiri dan Maju juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Tetapi di balik capaian tersebut masih terdapat ruang untuk terus memperkuat pembangunan, terutama dengan melihat variasi antardesa dan enam dimensi pembentuk Indeks Desa.
Karena itu, laporan ini tidak dimaksudkan untuk sekadar memberikan daftar desa berdasarkan skor.
Lebih dari itu, laporan ini diharapkan menjadi bahan baca bersama tentang kondisi, perubahan, kekuatan, dan tantangan desa-desa di Kabupaten Bima.
Sebab pembangunan desa pada akhirnya bukan tentang siapa yang berada di urutan pertama.
Pembangunan desa adalah tentang bagaimana 191 desa dapat terus bergerak maju dengan karakter, potensi, dan kebutuhan masing-masing.
"Indeks Desa memberikan angka. Kita memberikan makna.
Tugas kita adalah membaca makna di balik angka tersebut—bukan sekadar untuk mengetahui posisi desa, tetapi untuk memahami perubahan, mengenali tantangan, menggali potensi, dan menemukan jalan agar pembangunan 191 desa terus bergerak maju.
Karena di balik setiap angka, ada desa, ada potensi, ada tantangan, dan ada harapan yang harus terus diperjuangkan."
Catatan
Artikel ini disusun berdasarkan Dataset Indeks Desa 2026 Kabupaten Bima dan laporan analisis Indeks Desa Kabupaten Bima 2026. Data mencakup 191 desa pada 18 kecamatan. Angka agregat kabupaten digunakan untuk memberikan gambaran umum, sedangkan data kecamatan dan desa digunakan untuk melihat variasi capaian dan perkembangan.
📄 Lampiran : Laporan Analisis Capaian Indeks Desa Kabupaten Bima Tahun 2026
Silakan baca dokumen secara online melalui tampilan PDF di bawah ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar