SELAMAT DATANG DI BLOG TPP

Selamat datang di Blog Tenaga Pendamping Profesional Kabupaten Bima – Media informasi, Edukasi, koordinasi, dan publikasi kegiatan pendampingan desa.

Hot News

🔥 HOT NEWS

MENU HORISONTAL DASBORD

Rabu, 26 Agustus 2026

Serah Terima BA Pemutakhiran Indeks Desa 2026 di Kecamatan Sape

By DODDY AFRIANTO  —  26 August 2026 10:23  —  TPP BIMA NEWS


BIMA | TPP BIMA BLOG NEWS — Serah terima Berita Acara (BA) hasil Pemutakhiran Indeks Desa Tahun 2026 tingkat Kecamatan Sape telah diselenggarakan guna memastikan akurasi data sebagai dasar perencanaan pembangunan. Kegiatan tersebut melibatkan Plt. Camat Sape H. Anwar H. Ishaka, S.Sos, Pendamping Desa Lukman dan Doddy Afrianto, serta Tim Verifikasi dan Validasi Pemutakhiran Indeks Desa Tahun 2026.

Pelaksanaan serah terima berlangsung di Kantor Camat Sape pada Rabu, 26 Agustus 2026, pukul 08.30 WITA. Acara dimulai dengan koordinasi intensif antara pihak terkait, dilanjutkan dengan pemeriksaan serta pemutakhiran data sesuai kondisi aktual di lapangan. Proses tersebut berlanjut dengan tahap verifikasi dan pencocokan data secara mendalam untuk memastikan kesesuaian informasi.

Dalam rangkaian kegiatan, tim juga melakukan pembahasan terperinci terkait data yang dinilai belum sesuai dengan realita. Hasil dari seluruh proses verifikasi dan pembahasan tersebut kemudian disusun dalam Berita Acara resmi yang menjadi bahan tindak lanjut serta pelaporan ke tingkat yang lebih tinggi. Seluruh tahapan dirancang agar berjalan sistematis dan transparan.

Kegiatan ini bertujuan fundamental untuk memastikan proses pemutakhiran data Indeks Desa Tahun 2026 dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku dan merepresentasikan kondisi riil di lapangan. Data yang akurat dan terverifikasi sangat krusial karena akan menjadi landasan penilaian serta perencanaan pembangunan desa yang tepat sasaran. Tanpa validasi yang ketat, kebijakan pembangunan berisiko tidak menyentuh kebutuhan prioritas masyarakat.

"Pemutakhiran data Indeks Desa Tahun 2026 perlu dilakukan secara akurat dan sesuai kondisi riil di lapangan agar data yang dihasilkan dapat menjadi dasar dalam menentukan arah pembangunan dan pelayanan masyarakat di desa," ujar H. Anwar H. Ishaka, S.Sos selaku Plt. Camat Sape. Ia menegaskan bahwa keabsahan data merupakan prasyarat mutlak agar program-program pemerintah dapat berjalan efektif dan merata.

Harapan serupa disampaikan oleh Lukman selaku Pendamping Desa. "Kami berharap proses pemutakhiran data Indeks Desa dapat dilaksanakan secara objektif dan sesuai kondisi sebenarnya, sehingga data yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan serta menjadi bahan evaluasi dan perencanaan pembangunan desa," jelas ia. Ia menambahkan bahwa objektivitas dalam pengisian data adalah kunci keberhasilan evaluasi performa desa ke depan. Dengan ditandatanganinya Berita Acara ini, diharapkan data Indeks Desa 2026 dapat segera dimanfaatkan optimal untuk kesejahteraan masyarakat.

Senin, 24 Agustus 2026

Fasilitasi Percepatan Input Indeks Desa 2026 Selesai 100 Persen

By susanto  —  24 August 2026 20:27  —  TPP BIMA NEWS

BIMA | TPP BIMA BLOG NEWS — Fasilitasi percepatan penyelesaian input Indeks Desa Tahun 2026 bagi desa-desa yang belum menyelesaikan pengisian data berlangsung efektif di Ruang Rapat Pendamping pada  Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes) Kabupaten Bima, Jalan Garuda Nomor 6 Mpunda, Senin (24/8/2026). Kegiatan ini dihadiri perangkat desa dari Kecamatan Ambalawi dan Langgudu serta didampingi Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Bima.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Sekretaris Desa (Sekdes) Nipa, Operator SID Desa Nipa, Sekdes Rite, Sekdes Tolowata, dan Sekdes Talapiti dari Kecamatan Ambalawi. Dari Kecamatan Langgudu hadir Operator Desa Wawo Rada, Pendamping Desa Kecamatan Ambalawi, serta Pendamping Desa Kecamatan Langgudu. Kehadiran para peserta tersebut menjadi bukti komitmen bersama dalam menyelesaikan kewajiban administrasi data desa.

Kegiatan dilaksanakan untuk menjawab tantangan tertinggalnya penginputan data Indeks Desa Tahun 2026 di sejumlah desa. Data Indeks Desa merupakan instrumen vital yang mencerminkan kondisi kesejahteraan dan pembangunan di tingkat desa. Oleh karena itu, penyelesaian input data ini tidak boleh ditunda lagi agar tersedia data akurat dan tepat waktu untuk keperluan perencanaan pembangunan mendatang.

Pelaksanaan dimulai dengan penyampaian materi oleh TAPM terkait teknis pengisian kuisioner Indeks Desa. Narasumber menegaskan beberapa titik krusial yang harus menjadi perhatian utama saat update data, meliputi jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur, angka partisipasi anak usia sekolah, serta urusan penginputan bidang kesehatan dan ekonomi. Setelah penjelasan teknis, masing-masing Sekdes dan Operator menyiapkan data yang sudah dikumpulkan sebelumnya untuk langsung dipraktikkan di sistem.

Selama proses berlangsung, TAPM secara intensif mengawal dan mendampingi setiap desa peserta hingga proses penginputan mencapai 100 persen. Pendamping Desa Kecamatan Ambalawi, Ibu Nur Eka, menyampaikan apresiasi atas keseriusan perangkat desa. "Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak-bapak Sekdes di wilayah Dampinganku yang sudah menyiapkan waktu untuk hadir melakukan finalisasi penginputan data Indeks Desa-nya. Harapan ke depan, data-data tersebut akan menjadi dasar data dalam perencanaan pembangunan desa Tahun 2027 yang sedang dalam proses perencanaan," ujarnya dengan penuh harap.

Dengan selesainya fasilitasi ini, diharapkan seluruh desa peserta sudah memiliki data Indeks Desa 2026 yang lengkap dan terverifikasi. Data yang valid ini nantinya akan menjadi landasan utama dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Tahun Anggaran 2027. Pemerintah Kabupaten Bima melalui DPMDes berkomitmen terus mendorong percepatan berbasis data untuk mewujudkan pembangunan desa yang lebih berkeadilan dan bermakna bagi masyarakat.

Minggu, 23 Agustus 2026

Sejarah Desa Sangiang

Jejak Masyarakat, Laut, Pulau Sangiang, dan Perjalanan Pemerintahan Desa


Sejarah Desa Sangiang

Desa Sangiang merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini memiliki perjalanan sejarah yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat pesisir Wera, Pulau Sangiang, laut, serta perkembangan pemerintahan masyarakat di wilayah Bima.

Sejarah Sangiang bukan hanya tentang kapan sebuah pemerintahan desa mulai berdiri. Di balik nama Sangiang terdapat perjalanan panjang sebuah masyarakat yang hidup berdampingan dengan laut dan alam, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membangun kehidupan baru, serta tetap mempertahankan hubungan dengan tanah asal dan warisan leluhurnya.

Nama Sangiang sendiri telah dikenal dalam catatan sejarah yang jauh lebih tua daripada pemerintahan desa dalam bentuk modern. Kawasan Sangiang dan Wera mempunyai hubungan dengan perjalanan sejarah masyarakat Bima dan kehidupan bahari di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Karena itu, untuk memahami sejarah Desa Sangiang, kita perlu melihat terlebih dahulu hubungan masyarakatnya dengan Pulau Sangiang.

Pulau Sangiang dan Asal-Usul Masyarakat

Dalam ingatan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi, Pulau Sangiang memiliki tempat yang sangat penting dalam sejarah kehidupan masyarakat Sangiang.

Menurut penuturan masyarakat yang pernah dihimpun dalam penelitian mengenai asal-usul masyarakat Desa Sangiang, pada masa lalu sebagian masyarakat yang kemudian menjadi masyarakat Sangiang hidup di Pulau Sangiang. Kehidupan mereka sangat bergantung pada alam. Pertanian, peternakan, perikanan, dan kegiatan berburu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pulau Sangiang bukan hanya tempat tinggal. Pulau tersebut merupakan ruang kehidupan tempat masyarakat membangun keluarga, mengolah tanah, memelihara ternak, mencari ikan, serta menjalankan berbagai aktivitas sosial dan budaya.

Hubungan masyarakat dengan pulau tersebut kemudian menjadi bagian penting dari identitas Sangiang. Bahkan setelah masyarakat bermukim di daratan Wera, hubungan dengan Pulau Sangiang tetap dipertahankan.

Pulau Sangiang dengan Gunung Sangiang Api yang menjulang di tengah laut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ingatan kolektif masyarakat.

Pulau tersebut adalah bagian dari sejarah, sedangkan laut menjadi penghubung antara masa lalu dan kehidupan Sangiang hingga hari ini.


Perpindahan Masyarakat dari Pulau ke Daratan Wera

Salah satu bagian penting dalam cerita sejarah masyarakat Sangiang adalah perpindahan masyarakat dari Pulau Sangiang menuju daratan Wera.

Berdasarkan penuturan masyarakat, perpindahan tersebut berkaitan dengan kondisi Gunung Sangiang Api dan aktivitas gunung api yang pernah terjadi. Dalam cerita yang diwariskan, masyarakat Pulau Sangiang pada suatu masa harus meninggalkan tempat tinggal mereka.

Masyarakat kemudian diangkut menggunakan kapal. Dalam kesaksian yang telah dihimpun, mereka sempat dibawa menuju Kota Bima. Namun karena tempat yang tersedia tidak mencukupi untuk menampung seluruh masyarakat, mereka kemudian kembali dibawa menuju wilayah Wera.

Di wilayah pesisir Wera inilah masyarakat kemudian membangun kehidupan baru.

Perpindahan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan masyarakat Sangiang. Mereka meninggalkan tempat tinggal di pulau, tetapi tidak meninggalkan seluruh kehidupan yang telah diwariskan oleh leluhur.

Pengetahuan tentang laut, pertanian, peternakan, pelayaran, hubungan kekerabatan, serta berbagai kebiasaan masyarakat terus dibawa dan diwariskan di tempat yang baru.

Catatan sejarah: gambar pada bagian ini merupakan ilustrasi historis, bukan foto dokumentasi asli proses perpindahan masyarakat Sangiang. Narasi perpindahan didasarkan pada penuturan masyarakat yang tercatat dalam sumber yang telah kita temukan.


Dari Kehidupan Masyarakat Menuju Pemerintahan Sangiang

Setelah masyarakat berkembang di daratan Wera, kehidupan sosial masyarakat juga semakin terorganisasi.

Dalam catatan sejarah yang dihimpun dari Desa Sangiang melalui penelitian akademik, pada masa pemerintahan Jeneli Mpore, pembentukan pemerintahan Sangiang melibatkan sejumlah tokoh agama dan tokoh adat.

Beberapa tokoh yang disebut dalam catatan tersebut antara lain H. Arrahman Abu Tua Hawa, Ibrahim Ompu Kaka, H. Yasin Bahasa, H. Sanusin Abu Mbolo, Kasrin Ompu Lebe, dan H. Barahima M. Saleh.

Melalui musyawarah antara Jeneli Mpore dengan para tokoh tersebut kemudian disepakati Dalu Dona sebagai Dalu.

Dalu merupakan bentuk kepemimpinan masyarakat pada masa tersebut. Dalam konteks pemerintahan desa sekarang, kedudukannya dapat dipahami sebagai bagian dari sejarah awal kepemimpinan pemerintahan masyarakat Sangiang.

Dengan demikian, Dalu Dona merupakan nama pemimpin pertama yang berhasil ditemukan dalam catatan sejarah pemerintahan Sangiang yang tersedia saat ini.


Pemerintahan Para Dalu

Pada masa awal pemerintahan masyarakat Sangiang, kepemimpinan masih sangat erat dengan hubungan antara tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan struktur pemerintahan tradisional.

Setelah Dalu Dona memimpin selama kurang lebih sembilan tahun, kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Dalu Ali, yang menurut catatan yang tersedia memimpin sekitar delapan tahun.

Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh Dalu Bahasa atau Ompu Wa'u, yang disebut memimpin selama kurang lebih enam belas tahun. Kepemimpinan berikutnya diteruskan oleh Dalu H. Jamaluddin, yang dalam catatan tersebut disebut memimpin sekitar dua puluh tahun.

Pada masa itu, kepemimpinan masyarakat belum berlangsung melalui sistem pemilihan kepala desa seperti yang dikenal sekarang. Pengangkatan pemimpin lebih banyak melibatkan pertimbangan tokoh agama, tokoh adat, dan struktur pemerintahan yang berlaku pada masa tersebut.

Sistem tersebut menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Sangiang pada masa lalu sangat menjunjung tinggi musyawarah, penghormatan kepada tokoh masyarakat, agama, dan adat.

Catatan visual: gambar di atas adalah ilustrasi suasana musyawarah masyarakat pada masa lampau, bukan foto Dalu Dona atau tokoh Sangiang tertentu. Kita sengaja tidak membuat wajah seseorang seolah-olah merupakan foto asli tokoh sejarah.

 

Perubahan Zaman dan Sistem Pemerintahan

Seiring perubahan zaman, sistem pemerintahan di wilayah Bima juga mengalami perubahan.

Catatan yang tersedia menyebutkan bahwa sekitar masa pemerintahan Dalu H. Jamaluddin terjadi perubahan tata pemerintahan yang berkaitan dengan berakhirnya pemerintahan Kesultanan Bima dan berkembangnya sistem pemerintahan Swapraja.

Perubahan tersebut turut memengaruhi sistem pemerintahan di tingkat masyarakat, termasuk Sangiang.

Kepemimpinan yang sebelumnya sangat erat dengan struktur tradisional secara bertahap berkembang menuju sistem pemerintahan desa yang lebih modern. Masyarakat kemudian memiliki peran yang semakin besar dalam menentukan pemimpin pemerintahan mereka.

Namun demikian, tahun sekitar 1950 yang disebut dalam sumber tidak kita tetapkan sebagai tahun resmi berdirinya Desa Sangiang.

Hal ini karena sampai penelitian kita saat ini belum ditemukan dokumen primer berupa keputusan atau peraturan yang secara tegas menyatakan tanggal dan tahun pembentukan resmi Desa Sangiang.

Karena itu, untuk menjaga kehati-hatian sejarah, tahun resmi berdirinya Desa Sangiang masih perlu dikonfirmasi melalui arsip Pemerintah Desa Sangiang, Kecamatan Wera, maupun Pemerintah Kabupaten Bima.


Dari Dalu Menuju Pemerintahan Desa

Perjalanan pemerintahan Sangiang kemudian berlanjut menuju sistem pemerintahan desa.

Dalam catatan yang berhasil ditemukan, setelah masa kepemimpinan para Dalu, pemerintahan desa kemudian dilanjutkan oleh beberapa kepala desa, di antaranya H. Imran, Drs. Saidin Murtada, A. Rasyid H. Imran, SE, Muhammad Saleh H. Mustaram, dan kemudian A. Rasyid H. Imran, SE.

Urutan tersebut merupakan bagian dari catatan sejarah pemerintahan yang berhasil kita temukan dan masih terbuka untuk dilengkapi dengan arsip resmi Desa Sangiang.

Dengan perjalanan tersebut, pemerintahan Sangiang mengalami perubahan dari kepemimpinan tradisional menuju sistem pemerintahan desa yang lebih sesuai dengan perkembangan tata pemerintahan Indonesia.


Laut dan Warisan Budaya Sangiang

Sejarah Sangiang tidak dapat dipisahkan dari laut.

Laut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak masa lalu. Laut menjadi jalur perjalanan, sumber penghidupan, sekaligus penghubung antara masyarakat daratan Wera dengan Pulau Sangiang.

Salah satu warisan budaya bahari yang penting adalah tradisi yang berkaitan dengan perahu tradisional, termasuk tradisi Kalondo Lopi.

Perahu bukan sekadar alat transportasi bagi masyarakat pesisir. Ia merupakan bagian dari pengetahuan, keterampilan, kerja bersama, dan kehidupan sosial masyarakat.

Proses pembuatan dan peluncuran perahu memperlihatkan adanya semangat gotong royong serta hubungan yang kuat antara manusia dan laut.

Karena itu, tradisi bahari Sangiang bukan hanya peninggalan masa lalu. Ia merupakan identitas budaya yang masih memiliki arti bagi masyarakat hingga sekarang.


Sangiang, Pulau, dan Generasi yang Terus Terhubung

Hubungan masyarakat dengan Pulau Sangiang juga tidak sepenuhnya berakhir setelah perpindahan ke daratan.

Dalam catatan mengenai kehidupan masyarakat Sangiang, hubungan dengan pulau tetap berlangsung. Masyarakat masih melakukan berbagai aktivitas di Pulau Sangiang, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan kebun dan ternak.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa bagi masyarakat Sangiang, pulau dan daratan bukanlah dua kehidupan yang terpisah.

Keduanya merupakan bagian dari satu perjalanan sejarah.

Pulau Sangiang menjadi bagian dari masa lalu, daratan Wera menjadi tempat berkembangnya kehidupan baru, dan laut menjadi penghubung keduanya.


Sangiang Hari Ini

Hari ini Desa Sangiang terus berkembang sebagai bagian dari Kecamatan Wera, Kabupaten Bima.

Masyarakatnya hidup dalam perubahan zaman, tetapi berbagai unsur sejarah dan budaya masih menjadi bagian dari kehidupan desa.

Laut masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Pulau Sangiang masih memiliki tempat khusus dalam ingatan dan kehidupan warga. Tradisi dan budaya masyarakat terus diwariskan, sementara pemerintahan desa terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

Perjalanan panjang tersebut menjadi modal penting bagi Desa Sangiang untuk membangun masa depan.

Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk menjadi dasar dalam memahami siapa masyarakat Sangiang dan dari mana mereka berasal.


Menjaga Sejarah, Merawat Identitas

Sejarah Desa Sangiang adalah kisah tentang masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan pulau, laut, tanah, adat, agama, dan pemerintahan.

Ia adalah kisah tentang masyarakat yang pernah membangun kehidupan di Pulau Sangiang, kemudian berpindah ke daratan Wera, tetapi tetap membawa identitas dan warisan leluhurnya.

Ia adalah kisah tentang para tokoh masyarakat yang membangun pemerintahan melalui musyawarah.

Ia adalah kisah tentang Dalu Dona, yang tercatat sebagai pemimpin pertama dalam sejarah pemerintahan Sangiang yang berhasil kita temukan, serta para Dalu yang meneruskan kepemimpinan setelahnya.

Dan ia adalah kisah tentang sebuah masyarakat yang terus berubah mengikuti zaman tanpa kehilangan hubungan dengan akar sejarahnya.

Sangiang bukan sekadar sebuah nama.

Sangiang adalah perjalanan.

Perjalanan masyarakat dari pulau menuju daratan, perjalanan para leluhur membangun kehidupan, perjalanan pemerintahan dari kepemimpinan tradisional menuju pemerintahan desa, serta perjalanan budaya yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Sejarah itulah yang menjadi bagian dari jati diri Desa Sangiang.


Catatan penting untuk halaman website

Catatan Sejarah
Narasi sejarah Desa Sangiang ini disusun berdasarkan sumber tertulis, penelitian akademik, serta penuturan masyarakat yang tersedia. Beberapa bagian merupakan sejarah lisan yang masih terbuka untuk dilengkapi dan dikoreksi berdasarkan arsip Pemerintah Desa Sangiang, keterangan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan dokumen resmi Pemerintah Kabupaten Bima.








Jumat, 14 Agustus 2026

Upaya Sinkronisasi Data Siskeudes Desa Sangiang di sekretariat P3MD

By Susanto  —  14 August 2026 19:03  —  TPP BIMA NEWS

BIMA | TPP BIMA BLOG NEWS — Upaya sinkronisasi dan perbaikan data Sistem Keuangan Desa (Siskeudes) menjadi fokus utama dalam pertemuan konsultasi di Sekretariat P3MD Kabupaten pada Jumat, 14 Agustus 2026. Kegiatan ini dilakukan untuk mengatasi kendala teknis terkait penginputan anggaran APBDes yang mengalami ketidaksesuaian pada sistem aplikasi. Melalui koordinasi intensif ini, diharapkan seluruh administrasi keuangan desa dapat kembali berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen menjaga akuntabilitas pengelolaan keuangan di tingkat desa.

Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan Operator Siskeudes Desa Sangiang yang melakukan konsultasi langsung dengan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM). Permasalahan bermula saat ditemukan adanya kendala dalam pelaporan pertanggungjawaban SPP Panjar di dalam aplikasi Siskeudes. Ketidaksesuaian ini muncul akibat adanya perbedaan antara data yang telah direkam dalam aplikasi Onspam dengan dokumen RPU pengajuan tahap pertama. Oleh karena itu, diperlukan penanganan khusus agar seluruh data keuangan dapat terintegrasi dengan sempurna tanpa ada selisih angka.

Dalam proses pemeriksaan, TAPM melakukan verifikasi mendalam terhadap file RPU Tahap 1 milik Desa Sangiang. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekeliruan pada rumus penjumlahan nilai yang menyebabkan terjadinya selisih pada pengajuan anggaran tahap sebelumnya. Sebagai solusi, dilakukan perbaikan rumus penjumlahan pada dokumen RPU tersebut untuk memastikan akurasi data. Selain itu, diberikan penjelasan komprehensif mengenai alur pengelolaan keuangan di Siskeudes, mulai dari tahap penganggaran hingga tahap pelaporan akhir.

Berdasarkan hasil konsultasi, disimpulkan bahwa perbaikan data tersebut tidak dapat dilakukan secara instan di tengah jalan. Operator diberikan pemahaman bahwa setiap perubahan harus dilakukan melalui mekanisme Perubahan  APBDes. Hal ini dikarenakan sistem tidak mengizinkan perubahan data tanpa melakukan pencabutan posting APBDes dan memerlukan persetujuan dari admin Siskeudes tingkat kabupaten. Prosedur ini sangat penting untuk menjaga integritas data keuangan desa agar tetap valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Operator Siskeudes Desa Sangiang, Herdin, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas bimbingan yang telah diberikan selama proses konsultasi berlangsung. "Saya mengucapkan banyak terima kasih atas waktu dan kesempatan yang telah diberikan oleh Bapak Susanto, selaku TAPM, yang telah meluangkan waktu di hari Jumat ini untuk memberikan bimbingan serta ruang konsultasi dan pencerahan dalam pengelolaan Sistem Keuangan Desa berbasis aplikasi Siskeudes. Harapannya ke depan, Bapak bersedia meluangkan waktu kembali untuk memberikan bimbingan serta arahan guna meningkatkan kapasitas kami dalam pengelolaan sistem keuangan desa maupun kapasitas lainnya yang berkaitan dengan desa. Tetaplah menjadi guru bagi kami yang masih membutuhkan peningkatan kapasitas," ujar Herdin.

Pesona Festival Sangiang Api: Perayaan Budaya dan Laut di Desa Sangiang

📍 Desa : Sangiang
🏝️ Destinasi : Festival Sangiang Api
✨ Daya Tarik : Saksikan kemeriahan budaya unik di Festival Sangiang Api!
Desa Sangiang di Kecamatan Wera memiliki potensi wisata luar biasa melalui Festival Sangiang Api. Diselenggarakan setiap tahun pada bulan Juli hingga Agustus mengikuti pola angin musim tenggara, festival ini menawarkan perpaduan unik antara kompetisi laut, budaya, dan olahraga. Pengunjung dapat menikmati lomba perahu layar, pacuan kuda, hingga fun run. Selain wisata alam seperti snorkeling dan camping, festival ini menjadi penggerak ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM dan keterlibatan aktif masyarakat setempat.

Desa Sangiang yang terletak di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, menyimpan sebuah kekayaan budaya yang sangat istimewa. Setiap tahunnya, tepatnya pada bulan Juli hingga Agustus mengikuti pola angin musim tenggara, desa ini menyelenggarakan Festival Sangiang Api. Keunikan festival ini terletak pada eksklusivitasnya, di mana kemeriahan acara serupa tidak dapat ditemukan di tempat lain. Perayaan ini menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin merasakan perpaduan harmonis antara tradisi lokal dan keindahan alam pesisir.

Berbagai rangkaian kegiatan menarik tersaji dalam festival tahunan ini. Pengunjung dapat menyaksikan kemeriahan lomba perahu layar dan sampan dayung yang memacu adrenalin di perairan. Selain kompetisi air, tersedia pula perlombaan pacuan kuda yang ikonik, kegiatan Fun Run sejauh 10 kilometer, serta berbagai lomba hari budaya lainnya. Suasana festival semakin hidup dengan kehadiran berbagai produk UMKM yang menyajikan kuliner khas dan kerajinan tangan sebagai buah tangan bagi para wisatawan.

Bagi pecinta alam, Desa Sangiang menawarkan paket wisata lengkap yang memanjakan mata. Pengunjung dapat menikmati panorama alam yang indah, mulai dari menyaksikan matahari terbit hingga momen matahari terbenam yang memukau. Aktivitas seperti snorkeling, berenang, memancing, hingga trekking menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin berinteraksi langsung dengan alam. Selain itu, area ini juga sangat cocok untuk kegiatan camping bagi mereka yang ingin merasakan suasana malam di tepi pantai.

Akses menuju lokasi festival ini tergolong sangat baik. Dari pusat kota Bima, pengunjung dapat menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat melalui jalan aspal. Sementara itu, jika berangkat dari pusat Kecamatan Wera, waktu tempuh hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit saja. Kemudahan akses ini diharapkan dapat terus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Sangiang.

Pengelolaan festival ini melibatkan peran aktif masyarakat secara luas. Warga setempat turut serta mengelola area parkir, warung makan, hingga penyediaan jasa sewa perahu dan pemandu trekking. Kehadiran festival ini memberikan dampak ekonomi nyata bagi desa, terutama dalam membuka peluang usaha kuliner dan penjualan hasil kerajinan. Hal ini secara langsung membantu meningkatkan pendapatan masyarakat serta pendapatan asli desa melalui pengelolaan wisata yang terintegrasi.

Meskipun memiliki potensi besar, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi, seperti pengelolaan sampah saat festival berlangsung serta keterbatasan anggaran penyelenggaraan. Selain itu, ketersediaan penginapan permanen masih terbatas, sehingga wisatawan umumnya memilih untuk bermalam menggunakan tenda camping. Hal ini menjadi catatan penting bagi pengembangan wisata di masa depan agar lebih berkelanjutan dan nyaman bagi pengunjung.

Ke depannya, terdapat harapan besar untuk pengembangan Desa Sangiang, terutama dalam penyediaan fasilitas homestay bagi wisatawan. Pelatihan bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) serta kampanye sadar sampah menjadi prioritas untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan dukungan fasilitas pembuangan sampah yang memadai saat festival berlangsung, Festival Sangiang Api diharapkan dapat terus tumbuh menjadi ikon wisata budaya dan alam yang mendunia.

Rapat Koordinasi TPP Kabupaten Bima Perkuat Kapasitas Pendamping Desa

By Dody  —  14 August 2026 06:53  —  TPP BIMA NEWS


BIMA | TPP BIMA BLOG NEWS — Rapat Koordinasi Tenaga Pendamping Profesional (TPP) bulan Agustus diselenggarakan untuk memperkuat sinergi antar pendamping di wilayah Kabupaten Bima. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 13 Agustus 2026 ini bertempat di Sekretariat P3MD Kabupaten Bima. Pertemuan ini menjadi wadah strategis dalam membangun koordinasi lintas pendamping di tingkat kabupaten. Melalui forum ini, seluruh tenaga pendamping diharapkan memiliki kesamaan persepsi dalam menjalankan tugas di lapangan. Sinergi yang kuat menjadi kunci utama keberhasilan program pembangunan desa di masa mendatang.

Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa dari berbagai wilayah di Kabupaten Bima. Selain para pendamping, hadir pula Koordinator Kabupaten dan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten sebagai narasumber utama. Agenda dimulai dengan pemaparan mengenai isu-isu manajemen pendampingan bulan Agustus yang krusial. Poin-poin tersebut menjadi perhatian khusus agar proses pendampingan di desa berjalan sesuai regulasi. Fokus utama diskusi adalah memastikan setiap kendala di lapangan dapat teratasi dengan solusi yang tepat.

Memasuki sesi inti, TAPM Kabupaten Bima menyampaikan materi teknis mengenai pentingnya pemutakhiran Indeks Desa. Selain pembahasan Indeks Desa, peserta juga mendapatkan penguatan materi terkait prosedur pendaftaran badan hukum Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Materi ini sangat penting mengingat peran BUMDes sebagai penggerak ekonomi desa yang memerlukan legalitas hukum yang kuat. Pemahaman yang mendalam mengenai regulasi ini diharapkan dapat meminimalkan hambatan administrasi di tingkat desa. Hal ini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas tenaga pendamping secara berkelanjutan.

Koordinator Kabupaten TPP Kabupaten Bima menyampaikan bahwa Rapat Koordinasi Pendamping Desa Bulan Agustus 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi, konsolidasi, dan komitmen seluruh pendamping dalam meningkatkan kualitas pendampingan desa. Selain mengevaluasi pelaksanaan tugas, rapat juga membahas berbagai isu manajemen program guna memastikan pendampingan berjalan efektif, profesional, dan berdampak bagi kemajuan desa, ujar Koordinator Kabupaten.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, telah disusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) yang sangat mendesak. Fokus utama dalam RKTL tersebut adalah penyelesaian verifikasi Indeks Desa 2026 yang harus rampung pada 18 Agustus 2026. Proses verifikasi ini akan dilaksanakan pada tingkat kecamatan sebagai tahapan krusial sebelum masuk ke tahap berikutnya. Ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas ini sangat menentukan akurasi data pembangunan desa di Kabupaten Bima. Seluruh pendamping berkomitmen untuk menuntaskan target tersebut sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Sorotan Pendampingan Desa

PENGEMBANGAN SIPENA VERSI 2

Membangun Sistem Penulisan Berita Desa Berbasis AI dengan Google Apps Script, Spreadsheet, Blogger, dan OpenRouter  Dari Data Kegiatan Desa ...