PADA MU NEGERI KAMI MENGABDI

Selamat datang di Blog Tenaga Pendamping Profesional Kabupaten Bima – Media informasi, Edukasi, koordinasi, dan publikasi kegiatan pendampingan desa.

Hot News

🔥 HOT NEWS

Selasa, 03 Februari 2026

Training Needs Assessment (TNA) Kelembagaan Desa

 

Analisis Kebutuhan Pelatihan bagi Pemerintah Desa dan Kelembagaan Desa

A. Pendahuluan

Tenagan Pendamping Profesional (TPP) memiliki peran strategis dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di desa. Salah satu instrumen paling penting untuk memastikan pelatihan tepat sasaran, efektif, dan berdampak nyata adalah Training Needs Assessment (TNA) atau Analisis Kebutuhan Pelatihan.

TNA membantu Tenaga Pendamping Profesional  menjawab pertanyaan mendasar:

  • Pelatihan apa yang benar-benar dibutuhkan?

  • Siapa yang paling membutuhkan?

  • Masalah apa yang ingin diselesaikan melalui pelatihan?

Tanpa TNA, pelatihan berisiko bersifat seremonial, tidak relevan, dan tidak berkelanjutan.


B. Pengertian Training Needs Assessment (TNA)

Training Needs Assessment (TNA) adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi kesenjangan (gap) antara kompetensi yang dimiliki dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh individu, kelompok, atau organisasi desa dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Dalam konteks desa, TNA bertujuan untuk memastikan bahwa pelatihan:

  • Mendukung penyelenggaraan pemerintahan desa

  • Memperkuat fungsi kelembagaan desa

  • Meningkatkan kualitas pelayanan publik

  • Mendorong kemandirian dan pemberdayaan masyarakat desa

  • Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Kelembagaan Desa dan Masyarakat


C. Tujuan TNA bagi Tenaga Pendamping Profesional 

  1. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan riil di desa

  2. Menentukan prioritas pelatihan yang paling mendesak

  3. Menghindari pelatihan yang tidak relevan atau tumpang tindih

  4. Menjadi dasar penyusunan program peningkatan kapasitas desa

  5. Mendukung perencanaan anggaran pelatihan (APBDes, Dana Desa, CSR, dll)


D. Sasaran TNA di Desa

TNA dapat dilakukan untuk berbagai unsur dan kelembagaan desa, antara lain:

  1. Pemerintah Desa

    • Kepala Desa

    • Perangkat Desa (Sekdes, Kaur, Kasi)

  2. Badan Permusyawaratan Desa (BPD)

  3. Kader Kesehatan Desa

    • Kader Posyandu

    • Kader Kesehatan Lingkungan

  4. Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD)

  5. Pengelola BUMDes / BUMDesma

  6. Lembaga Kemasyarakatan Desa

    • PKK

    • Karang Taruna

    • LPM

    • RT/RW


E. Jenis Kebutuhan Pelatihan  

Dalam TNA, kebutuhan pelatihan umumnya dikelompokkan menjadi tiga jenis:

1. Kebutuhan Pengetahuan (Knowledge)

Contoh:

  • Pemahaman regulasi desa

  • Tata kelola keuangan desa

  • Konsep stunting dan kesehatan ibu-anak

  • Prinsip dasar pengelolaan BUMDes

2. Kebutuhan Keterampilan (Skill)

Contoh:

  • Penyusunan APBDes dan laporan keuangan

  • Penyusunan RPJMDes dan RKPDes

  • Pencatatan akuntansi sederhana BUMDes

  • Pelayanan Posyandu (penimbangan, pencatatan, pelaporan)

3. Kebutuhan Sikap (Attitude)

Contoh:

  • Disiplin dan tanggung jawab

  • Transparansi dan akuntabilitas

  • Kerja sama tim

  • Etika pelayanan publik


F. Langkah-Langkah Penyusunan TNA 

1. Identifikasi Tugas dan Fungsi

Tenaga Pendamping profesional desa perlu memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing sasaran, misalnya:

  • Tupoksi perangkat desa

  • Fungsi pengawasan BPD

  • Peran kader Posyandu

  • Tugas pengelola BUMDes

Tujuan tahap ini adalah mengetahui kompetensi ideal yang seharusnya dimiliki.

2. Analisis Kondisi Aktual di Lapangan

Tenaga Pendamping Profesional desa menilai kondisi nyata dengan metode:

  • Observasi langsung

  • Wawancara

  • Diskusi kelompok (FGD)

  • Kuesioner sederhana

Pertanyaan kunci:

  • Apa yang sudah bisa dilakukan?

  • Apa yang belum bisa dilakukan?

  • Kendala apa yang sering dihadapi?

3. Identifikasi Kesenjangan (Gap Analysis)

Bandingkan antara:

  • Kompetensi ideal (yang seharusnya dimiliki)

  • Kompetensi aktual (yang dimiliki saat ini)

Kesenjangan inilah yang menjadi kebutuhan pelatihan.

4. Penentuan Prioritas Pelatihan

Tidak semua kebutuhan harus dilatih sekaligus. Tenaga pendamping profesional Desa perlu menentukan prioritas berdasarkan:

  1. Tingkat urgensi masalah

  2. Dampak terhadap pelayanan dan pembangunan desa

  3. Ketersediaan anggaran dan waktu

  4. Jumlah sasaran pelatihan

5. Perumusan Rekomendasi Pelatihan

Hasil TNA dirumuskan menjadi rekomendasi yang jelas, meliputi:

  • Jenis pelatihan

  • Sasaran peserta

  • Materi utama

  • Metode pelatihan (kelas, praktik, mentoring)

  • Estimasi waktu dan biaya



  • Instrumen Penjajakan Kebutuhan Pelatihan :     


G. Contoh Fokus TNA per Kelembagaan

1. Pemerintah Desa

  • Penyusunan perencanaan desa

  • Pengelolaan keuangan dan aset desa

  • Sistem informasi desa

2. BPD

  • Fungsi pengawasan

  • Teknik menyerap aspirasi masyarakat

  • Pemahaman regulasi desa

3. Kader Posyandu & Kesehatan

  • Pencatatan dan pelaporan Posyandu

  • Deteksi dini stunting

  • Edukasi gizi dan kesehatan ibu-anak

4. KPMD

  • Teknik fasilitasi masyarakat

  • Pendataan sosial

  • Pengorganisasian kelompok

5. BUMDes

  • Tata kelola dan manajemen usaha

  • Akuntansi sederhana (double entry)

  • Penyusunan laporan keuangan

  • Pengembangan unit usaha desa


H. Output yang Diharapkan dari TNA

  1. Dokumen Analisis Kebutuhan Pelatihan Desa

  2. Daftar prioritas pelatihan tahunan

  3. Dasar penyusunan program peningkatan kapasitas

  4. Rekomendasi penganggaran pelatihan desa



Training Needs Assessment (TNA) bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi merupakan alat strategis bagi Tenaga Pendamping Profesional (TPP) untuk memastikan setiap pelatihan benar-benar menjawab kebutuhan desa.

Tenaga Pendamping profesional desa yang mampu menyusun TNA dengan baik akan membantu desa:

  • Lebih tepat dalam merencanakan pelatihan

  • Lebih efisien dalam penggunaan anggaran

  • Lebih berdaya dalam menjalankan pembangunan dan pelayanan masyarakat


Catatan : TNA yang baik bersifat partisipatif, sederhana, dan kontekstual sesuai kondisi desa. Fokus pada kebutuhan nyata, bukan sekadar mengikuti tren pelatihan.


Form TNA  Kelembagaan Desa 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sorotan Pendampingan Desa

PEMBELAJARAN LANJUTAN JURNAL DOUBEL ENTRY

  Implementasi Jurnal Double Entry Metode Perpetual Pada Unit Usaha Perdagangan BUMDes Menggunakan PPAK BUMDes Versi 4.2 Pada artikel kam...